KARAKTERISTIK WILAYAH DESA

  18 April 2017  |  DESA GITIK

Desa Gitik Kecamatan Rogojampi yang posisinya berada di wilayah tengah Kabupaten Banyuwangi, memiliki arti strategis kerena wilayah ini merupakan kawasan desa persawahan yang memiliki tingkat kesuburan tanahnya tinggi, sehingga sangat memungkinkan untuk pengembangan komoditas tanaman pangan seperti padi, jagung kedelai, semangka, melon, cabai merah besar dan sayur-sayuran.

Desa Gitik merupakan dataran rendah yang luasnya mencapai 125,95 Ha, dari luas tersebut digunakan untuk persawahan sebayak 83,49 Ha atau 66,29 persen, Pekarangan seluas 6,4 Ha atau 5,08 persen, dan yang digunakan untuk pemukiman mencapai 8,57 Ha atau 6,80 persen, sedangka sisanya yang mencapai 27,49 Ha atau 21,83 persen merupakan fasiltas umum seperti jalan, Kuburan, Lapangan, Tempat Ibadah, Sekolahan, sungai, dan prasaran lainnya.

 

Lahan persawahan yang mencapai 66,29 persen merupakan sawah irigasi teknis yang mampu ditanami tanaman pangan berupa padi dan polowijo sebanyak tiga kali masa tanam setahun, hal ini karena didukung adanya sungai-sungai yang mengalir sepanjang tahun diantarnya sungai Racek, Cerme, yang berada dibagian selatan dan sungai Kemuning, Kali Bukung yang berada di sebelah utara, meskipun di masa – masa musim kering / panas mengalami penurunan debit airnya. Dari luas lahan sawah  83,49 Ha mampu ditanami padi sebanyak tiga kali tanam dan polowijo sebanyak satu kali tanam. Produktifitas tanaman padi mencapai  2,8 (dua koma delapan) ton per hektar, pada tahun 2014 produksi padi mencapai 700 ton, sedangkan kebutuhan pangan untuk masyarakat desa Gitik selama satu tahun sebanyak 400,50 ton, sehingga memeliki kelebihan produksi / surplus beras sebanyak  299,50 ton. Produktifitas jagung dan kedelai  mengalami penurunan hal ini karena adanya tata tanam yang tidak tepat pada wakyunya sehingga terjadi serangan hama dan penyakit juga adanya gangguan cuaca/ Iklim yang tidak bersahabat. Produksi jagung di tahun 2014 mencapai 2,4 ton dan cabe merah mencapai 2,5 ton, kedua produk ini tidak secara langsung menjadi konsumsi masyarakat melainkan didistribusan ke pengepul, terus dikeringkan setelah kering dikirim ke pabrikan untuk kepentingan bahan baku  industri. Untuk ubi jalar produksinya mengalami peningkatan karena adanya pergeseran polapikir petani yaitu dari tanam jagung, kedelai beralih ke tanam ubi jalar karena produk ini memiliki nilai tambah tinggi sehingga menjadi gaya tarik petani..  Lahan pekarangan luasnya hanya 6,4 hektar merupakan perkebunan rakyat dengan komoditas yang di tanam sebagian besar adalah kelapa dan jenis kayu-kayuan seperti Sengon, Jabon dan Jati. Tahun 2014 produk kelapa mencapai 8.600 butir, dan pemanfaatannya masih digunakan untuk konsumsi sendiri sehingga produk ini masih belum mampu memberikan nilai tambah pada perekonomian desa. Sedangka produk kayu sengon yang memiliki masa panen yang cukup lama, tahun 2014 ini masih belum ada yang dipanen / ditebang karena usia tanaman / medel kayu masih kecil sehingga belum dapat ditebang.Desa Gitik merupakan desa persawahan sangat memungkinkan untuk usaha peternakan, karena dari lahan sawah selalu menyediakan pakan ternak berupa rumput sangat melimpah.Usaha peternakan yang ada masih berskala kecil/perorangan sehingga keberadaannya tidak mengganggu terhadap lingkungan, bahkan dari limbah usaha ternak diproses menjadi kompos yang sangat dibutuhkan oleh petani guna pemupukan tanaman baik tanaman pangan maupun tnaman perkebunan. Populasi ternak di tahun 2014 mencapai  1.556 ekor terdiri dari Sapi 14 ekor, kerbau 5 ekor, ayam kampong 1.000 ekor, bebek 400 ekor, kuda 1 ekor, kambing 30 ekor, domba 71 ekor, angsa 13  ekor, dan kelinci 22 ekor. Potensi sumber daya air di desa Gitik terdapat empat sungai yang mengalir sepanjang tahun diantaranya Sungai Cerme dan Racek yang memiliki debit air  sedang, dimanfaatkan untuk mengairi sawah-sawah yang berada di Desa Pengatigan, Benelan Lor, Gitik, dan Karang Bendo. Sedangkan Sungai Kemuning dan Kali Bukung dimanfaatkan untuk desa-desa Benelan Lor, Gitik, Laban Asem dan Karang Bendo. Dari kedua sungai tersebut mampu mengairi semua sawah–sawah yang berada di desa Gitik. Belum lagi ditambah adanya sumur gali/bor ditengah sawah yang menjadi milik petani juga dimanfaatkan untuk mengairi sawah pada saat musim kemarau, sehingga lahan persawahan yang ada mampu ditanami padi dan polowijo sepanjang tahun.Penyediaan air bersih, masyarakat Gitik menggunakan sumur gali dan sungai, sungai yang ada  digunakan untuk mandi, cuci dan kakus (MCK), sedangkan untuk minum dan memasak menggunakan air sumur gali dan air dalam kemasan, jumlah sumur gali tahun 2014 mencapai 217 unit. Ketersediaan ruang publik di desa sangat terbatas yaitu hanya ada satu lapangan olah raga yang luasnya mencapai  400 m2, keberadaan lapangan olah raga ini sangat penting karena dapat dimanfaatkan untuk aktifitas generasi muda dalam meningkatkan prestasinya, juga untuk ruang terbuka hijau (RTH) dan untuk aktifitas yang lain.

 

Contact Details

  Alamat :  
  Email :
  Telp. :
  Instagram :
  Facebook :
  Twitter :


© 2019,   Web Desa Kabupaten Banyuwangi